Perjalanan Menuju Kuliah Pascasarjana (Part 2): Memilih Jurusan

Beberapa individu memilih untuk langsung melanjutkan studi pascasarjana ketika lulus kuliah sarjana. Pada umumnya mereka sudah mantap untuk memilih bidang studi yang akan mereka tempuh, dan mereka umumnya sudah memiliki pengalaman yang diperoleh semenjak duduk di bangku kuliah, misalnya pengalaman riset skripsi maupun independen. Namun untuk orang-orang seperti gue, yang cenderung pragmatis, terkadang masih bingung untuk memilih studi pascasarjana apa yang akan ditempuh ketika lulus kuliah.

Berdasarkan pengalaman teman-teman gue dan dosen pembimbing gue, studi pascasarjana harusnya lebih spesifik dan mendalam ketimbang studi sarjana. Studi pascasarjanapun tidak melulu harus sama dengan bidang studi di awal, namun tentunya sebelum bisa menempuh studi pascasarjana, kita harus sudah memiliki dasar ilmu yang cukup di bidang studi pascasarjana tersebut.

Misalnya, jika kita yang studi sarjananya di bidang Teknik Mesin lalu ingin mengambil pascasarjana bidang Ilmu Komputer, kita diharuskan untuk memiliki dasar ataupun pengalaman di bidang Ilmu Komputer sebelum bisa menempuh studi pascasarjana. Umumnya biasanya terdapat program matrikulasi atau penyetaraan sebelum mahasiswa pascasarjana dapat mengambil kuliah pascasarjana yang berbeda jurusan dengan kuliah sarjananya. Tapi kembali lagi, perlakuan masing-masing universitas akan berbeda terkait hal ini.

Continue reading “Perjalanan Menuju Kuliah Pascasarjana (Part 2): Memilih Jurusan”

Perjalanan Menuju Kuliah Pascasarjana (Part 1): Refleksi Diri

Ketika pertama kali lulus dari pendidikan Sarjana, dosen pembimbing gue sudah mewanti-wanti kenapa gue tidak langsung menempuh pendidikan Pascasarjana. Beliau menekankan bahwa beliau akan mendukung dengan memberikan surat rekomendasi sebagai prasyarat kuliah Pascasarjana di luar negeri. Namun gue memilih untuk berkarir terlebih dahulu karena gue ingin melihat bagaimana gue akan mengaplikasikan ilmu gue di kehidupan. Oleh karena itu, langkah pertama yang gue lakukan ketika lulus adalah melamar kerja, dan kemudian diterima untuk bekerja di salah satu perusahaan konsultan terkenal.

Keputusan ini sebenarnya disayangkan oleh dosen pembimbing saya. Namun sebagai anak yang baru lulus kuliah dan masih bimbang atas apa yang akan gue lakukan selepas kuliah, ini adalah keputusan yang terbaik buat gue untuk melihat lebih dalam potensi gue dan passion gue sebenarnya. Bekerja di perusahaan konsultan sebenarnya tidak menyurutkan niat untuk melanjutkan studi. Namun, tujuan dan studi apa yang akan gue tempuh masih merupakan pertanyaan yang belum terjawab saat itu.

Studi Pascasarjana di luar negeri bukan perkara mudah. Banyak yang harus dipersiapkan dan dipikirkan. Di beberapa post ke depan, gue akan coba berbagi bagaimana mempersiapkan diri untuk mengejar target studi Pascasarjana.

Refleksi Diri

Continue reading “Perjalanan Menuju Kuliah Pascasarjana (Part 1): Refleksi Diri”

Essay yang Gagal Buat LPDP

Udah lama ga posting. Gue teringat sekitar 3 tahun yang lalu gue apply beasiswa pascasarjana LPDP dan diharuskan menuliskan essay tentang “sukses terbesar dalam hidupmu”. Berhubung barusan ngubek-ubek Google Docs, berikut gue share essay LPDP yang gagal tersebut. Semoga menjadi pelajaran untuk bagaimana tidak menulis essay seperti ini untuk LPDP biar bisa lulus. šŸ˜›


Langkah Menuju Kesuksesan

Bagi sebagian orang, sukses itu bergantung dari hasil yang dicapai. Sangat tidak adil apabila kita gelap mata terhadap langkah menuju hasil yang dituju. Proses menuju target yang ingin dicapai merupakan penentu besar dari kesuksesan, sedangkan hasil yang diperoleh itu ibarat buah tangan kehidupan atas proses-proses yang telah dilalui.

Kita bisa merenungkan, apakah orang-orang yang menempuh langkah yang tidak halal dan etis pantas untuk disebut sukses walaupun langkah-langkah tersebut mengantarkannya kepada tujuan. Tentu nurani kita bergejolak dan enggan menerima pernyataan bahwa orang yang, sebagai contoh, mendapatkan kemakmuran dari hasil korupsi atau mendapatkan IPK tinggi dengan plagiarisme sebagai orang sukses. Walaupun bisa dikatakan bahwa yang bersangkutan ā€œsukses berbuat curangā€, tetapi bukan ā€œsuksesā€ yang seperti itu yang kita ingin cari.

Continue reading “Essay yang Gagal Buat LPDP”

How I Find My Faith

Jujur, gw kesal, marah, malu, melihat kejadian banyak umat Muslim Indonesia di bulan Ramadan ini.

Lagi ribut-ribut soal tudingan Quraish Shihab sebagai orang Syiah, hanya karena statement beliau dipelintir oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab. Akhirnya jadi viral lah di internet bahwa Quraish Shihab itu Syiah. Beredarlah lagi diĀ news feed kata-kata SESAT, SESAT, SESAT!

Tahukah kalian bahwa menuding SESAT kepada orang yang menyebutkan Asyhaduala Ilaha IlAllah wa Asyhaduanna Muhamadarrasulullah itu dosa? Bagaimana kalau tudingan kalian dikategorikan sebagai fitnah oleh Allah? Enteng mengucapkan kata SESAT itu sudah salah satu bentuk KESESATAN berpikir, berakhlak, dan beragama. Oke, gw ga mau berdebat soal Syiah. Pemahaman dan kepercayaan gw juga meyakini bahwa Syiah itu BERBEDA, bahkan dari sisi Aqidah. Tetapi itu tidak bisa menjustifikasi kita enteng ngomong SESAT, SESAT, dan SESAT.

Capek ah, di Facebook udah ngomongin ini,Ā lemme talk about something else.

Jadi bagaimana gw mendapatkan iman gw? Banyak teman-teman gw yang kehilangan imannya sehingga meninggalkan Tuhannya. Banyak juga yang mengaku beriman tapi akhlaknya tidak mencerminkan sama sekali keimanannya.

Gw memang sekolah di sekolah Islam, waktu SD, di Al-Azhar BSD. Tapi, rahasia nih ya, gw dulu di sekolah selalu memalsukan tanda tangan absensi Shalat. Sehingga gw memang jauh dari kata anak alim. Bahkan waktu SMA gw pernah di-bullyĀ sama teman dan (bahkan) guru agama gw sebagai anak yang tidak taat agama. Katanya perlu di ruqyat atau bai’at atau apalah itu biar lurus. How not funny at all is that? Bullying? Please..

Kejadian itu membuat gw sangat skeptis melihat orang-orang yang tampak alim di luaran, tetapi ternyata akhlaknya jauh dari sikap alim. Tampak sekali bahwa mereka cuma terdoktrin dengan tekstual dan ajaran-ajaran dari guru atau Ustadznya, sehingga sebenarnya menjadikan mereka tak ubahnya sebagai taqlid buta. Bagaimana mereka dengan entengnya menganggap orang lain sesat, bid’ah, inilah itulah, menuding dengan tuduhan-tuduhan, dan lain sebagainya. Sehingga kadang gw bertanya, sebenarnya bagaimana mereka menemukan iman? Apakah mereka beriman menggunakan hati mereka, atau cuma iman di atas teori saja? Gw bilang ini bukan berarti bilang bahwa teori ga penting loh ya.

Gw bukan orang yang mengaplikasikan teori dalam Islam sepenuhnya dalam hidup gw. Gw shalat masih sering telat, kadang bolong. Yang wajib aja masih belum rapih, apalagi yang sunnah. Belum lagi maksiat yang kecil hingga yang besar, gw belum bebas daripada itu. Mungkin juga tidak akan bisa terbebas sepenuhnya, karena gw memang manusia biasa yang tidak akan luput dari dosa. Tapi gw selalu terngiang pemahaman yang ditanamkan kepada gw dari berbagai Ustadz di berbagai khutbah Jum’at, maupun nasihat-nasihat dari orang tua gw. Bahwa Allah itu akan selalu memperhatikan hambaNya, menjaga hambaNya asalkan tetap ada iman menyala di hati kita.

Banyak kejadian-kejadian yang terjadi dalam hidup gw, yang menumbuhkan dan menguatkan iman gw kepadaNya. Banyak harapan-harapan kecil yang manisĀ di hati gw yang tak disangka-sangka berbuah menjadi kenyataan. Entah kenapa seakan menunjukkan bahwa Allah itu di sana memperhatikan gw, menyayangi gw, walaupun gw berlumur dosa, tak luput dari maksiat dan tingkah laku jahiliyah. Tetapi gw masih merasakan bagaimana mendapatkan nikmat sepanjang jantung gw berdetak.

Ya klise sih, apalagi mungkin orang-orang Atheis bakal bilang itu cuma di perasaan lo aja, yang berharap ada sesuatu yang lebih besar mengontrol itu semua, bla bla bla, ya tapi itulah yang gw percayai, dan Alhamdulillah sampai sekarang belum goyah.

Selain itu, kecintaan gw terhadap alam semesta ini, kekaguman gw terhadap ciptaanNya, yang gw rasakan setiap kali melihat keajaiban alam, keindahan lukisan semesta, tambah meningkatkan kedekatan gw terhadapNya. Gw termasuk orang yang sangat suka dengan sains dan ilmiah. Gw melihat hukum-hukum Fisika adalah sekumpulan source codeĀ yang telah dirancang oleh Allah dalam menggerakkan dunia ini. Gw melihat bagaimana canggihnya tubuh manusia bekerja, dengan semua reaksi kimianya, yang menghasilkan detak jantung, hela nafas, aliran darah, dan berbagai macam di dalamnya sebagai keajaiban yang tidak ada tandingannya di dunia ini.

Sungguh gw akhirnya memahami kenapa Islam disebutkan sebagai Agama yang berpikir. Karena iman itu bisa kita peroleh dengan berpikir, dengan menggunakan akal pikiran serta hati kita untuk mengerti, memahami, dan merasakan. Sedangkan apabila kita hanya menghafalkan teori saja, kita tidak akan pernah mengerti, memahami, apalagi merasakan. Coba saja ingat-ingat bagaimana kita berusaha menghafal teori menjelang ujian. Kelar ujian, lupa semua deh.

Gw nggak peduli atas apa yang orang lain bilang terhadap gw. “Halah, shalat males aja ngomongin agama.”, “Otak agama cetek ga usah bicara agama deh”, “Lo bilang beriman tapi bermaksiat”, dsb dsb dsb. Iman gw cuma kepada Allah. Memang iman gw belum ada apa-apanya, karena iman gw juga belum sepenuhnya menjauhkan gw dari perbuatan dosa. Tetapi gw berusaha. Gw tetap mengingat. Gw tidak ingin memadamkan rasa itu. Karena memang gw yakin bahwa Allah itu memang menyayangi semua hambaNya asalkan kita terus mengingatNya.

Sekedar cerita kecil, kadang gw suka mempersonifikasikan Allah dalam merespon apa yang gw lakukan, tanpa bermaksud merendahkan atau menistakanNya. Contohnya:

“Allah pasti geleng-geleng kalau lihat Gilang ini bolak balik bikin dosa, tetapi bolak balik juga minta pertolongan”.

Tetapi salah satu yang selalu ada di hati gw adalah

“Allah rasanya selalu tersenyum melihat gwĀ apapun yang gw lakukan. Allah pastiĀ murka terhadap dosa-dosa yang gw lakukan berulang kali. Tetapi Allah juga nggak pernah bosan berulang kali mengarahkan gw, mengingatkan gw dengan cara yang halus, menunjukkan tanda-tandaNya, agar gw bisa menjadi yang lebih baik. Terkadang gw malu kepada Allah atas diri gw yang sangat kotor ini, tetapi sepertinya Allah tetap mengarahkan agar gw tetap tidak melupakanNya, dan menjauhi apa yang tidak dikehendakiNya. Allah-pun tidak dan tidak akan pernah malu untuk menolong hambaNya seburuk apapun hambaNya. Karena Allah itu Maha Penyayang.”

Yah itu sih salah satu yang tersirat di dalam hati gw. Selebihnya biarlah itu menjadi rahasia antara aku dengan Dia. Semoga kita semua bisa beriman dengan akal pikiran dan hati kita, bukan hanya paham teori saja, karena teori doang ga cukup.

Makin Tua Makin…

Notes ini dibuat tahun 2009. Baca ini lagi bikin gw shock dan sedih. A BIG RED MARKED NOTE FOR ME!

Counting down, in the next 13 days, I’m no longer 1x and become 2x. Waktu tuh cepet banget dan gw pikir susah juga menikmati hidup kalau waktu berjalan cepat seperti ini. Masih banyak yang ingin gw lakukan namun apa daya, umur semakin tua, ajal semakin mendekat, dan akhir akan segera tiba.

Kadang gw berharap hidup bisa diulang lagi sehingga segala hal yang terlewatkan dapat gw lakukan. Banyak sekali hal yang gw sesali karena gw abaikan di masa lalu. Tapi memang penyesalan selalu datang belakangan, and not everything has a second chance.

People says I have a wonderful life. Well, no intention to brag myself, but sometimes I also feels that some people envy my success so far. Actually that makes I thanked God so much giving this wonderful life to me, even though I missed many things in the past. I know life ain’t perfect at all. And that makes life a life.

Am I ready to become a mature person? Am I ready to face the next phase of life? Am I ready to pursue my dreams? That’s a real big question I must answer in the next 13 days. Because I am no teenager anymore. I’m growing old, becoming an adult, and so on.

Once again, it’s a big grace that my life isn’t so suck. At this point, I admit that there’re some wishes I failed to pursue on my teenage life:

  1. Masuk sekolah top. Well, sebenernya sih SMA 9 juga udah top sih. Tapi sebenernya dulu gw tuh pengen masuk SMA 8 Jakarta. Hehehehe. Almamater dah šŸ˜›
  2. Become an exchange student
  3. Be big on class. Seumur hidup gw cuma sekali bisa rank 1 di kelas.
  4. Join basketball team. Sedari SD sebenernya udah pengen, tapi entah kenapa nggak kesampean sampe sekarang.
  5. Master IT at young age. Jujur, sebenernya kemampuan IT gw waktu jaman SMA rada stagnan. Gw dulu pengen bisa kayak remaja-remaja yang udah bisa hacking, coding, etc.

And I also regret something in the past:

  1. Nggak mau didaftarin kursus piano sama nyokap. Padahal sekarang gw malah pengen bisa main piano.
  2. Cengeng. AHAHAHA
  3. Nggak jujur sama perasaan sendiri dan nggak bisa ngungkapin perasaan gw ke seseorang (atau beberapa). Too afraid to take risks šŸ™‚
  4. Males olahraga. Hahahaha. My sport teachers would be laughing at me when they knew I said this thing.
  5. Nggak terlalu aktif di organisasi. Sekali lagi karena males.
  6. Males belajar.
  7. Males ngapa-ngapain.

So I only regret two things: LAZINESS and COWARD! Mestinya dulu gw dengerin kata nyokap bokap gw biar nggak nyesel sekarang. Gw aja nggak tau apa gw bisa menghilangkan kemalasan itu. Bahkan sampai sekarang gw juga masih seneng males-malesan. So, a big message to my grown-up man later:Ā Jangan sampe Makin Tua Makin MALES. HAHAHAHAHAHA

And I should be braver than now. I know I’m no man if I’m so coward. I must be brave to take any risk and not afraid of any failure.

Well, actually watching many teenage movies and dramas makes me feel a li’l bit down because it makes me regret my unfinished past. But, I will continue fighting to pursue all my (American) dreams! šŸ˜›

Ketika Niat Baik Diberikan Kesempatan

Jujur gw sebenernya sangat takut kalau sharing ini dianggap riya’. Tetapi di satu sisi gw pengen banget menginspirasi teman-teman melalui kisah kecil gw ini. šŸ™‚

Suatu malam, gw pulang ke rumah bareng temen gw naik taksi. Karena rumah gw di Depok dan temen gw di Pasar Minggu, gw memutuskan untuk turun di stasiun Pasar Minggu biar gw bisa melanjutkan naik kereta listrik ke Depok. Sekalian menghemat biaya.

Seperti yang sering kita ketahui (dan gw omel-omelin di Twitter, FB, dll), kereta listrik di Jakarta sering sekali rusak. Dan alangkah sialnya gw hari itu kereta gangguan dan gw baru menyadarinya setelah gw turun di depan stasiun. Biasanya gw sudah lebih update soal perjalanan kereta melalui medsos. Tetapi hari itu gw lengah.

Alangkah kacaunya kawasan Pasar Minggu hari itu. Banyak penumpang kereta yang super padat berhamburan ke luar stasiun guna mencari alternatif lain. Bayangkan satu kereta isinya hampir 1000 orang, ada dua kereta yang ngetem di Pasar Minggu. Ratusan orang yang tinggal di seputaran Depok tentunya akan memilih turun di Pasar Minggu kemudian ganti angkot Miniarta arah Depok.

Dibandingkan kapasitas kereta, kapasitas angkot jauh-jauh lebih kecil. Belum lagi jumlah angkot yang terbatas. Jadilah orang berebut bukan main hanya untuk mendapatkan angkot. Berhubung gw yang tidak naik kereta ikut juga terjebak di sana, jadilah gw harus ikut rebutan angkot bersama dengan orang-orang lainnya. Gw sampai jalan jauh dulu biar bisa naik angkot duluan sebelum keduluan orang-orang lainnya.

Dapatlah gw angkot, gw bisa dapat duduk di kursi depan. Ketika angkot menuju ke perempatan Pasar Minggu untuk putar balik, puluhan massa sudah bersiap-siap berebut angkot yang gw tumpangi itu. Bukan main rusuhnya orang-orang berebut angkot biar bisa pulang ke rumah dibandingkan menunggu kereta yang masih belum jelas kapan jalannya.

Pada saat itulah gw melihat dua orang ibu, yang satu sudah cukup tua renta, dan yang satu paruh baya. Ibu-ibu paruh baya itu berteriak, “Tolong mbak, mas, kasih ibu ini tumpangan.”

Ibu-ibu paruh baya itu tampak putus asa melihat orang-orang dengan beringas tak memberi kesempatan ibu-ibu yang renta itu untuk naik angkot. Ibu-ibu renta itu nampak sulit untuk berjalan, tergopoh-gopoh, dan wajahnya tampak lelah dan putus asa.

Langsunglah melihat ibu-ibu renta itu teringat akan ibunda dan nenek gw. Hati gw terasa tersayat melihat ibu-ibu renta itu tak berdaya melawan massa yang bernafsu untuk segera pulang. Tapi alangkah sedihnya dan merasa sangat bersalah karena gw tak sanggup untuk membantu beliau. Walaupun kursi gw di depan, gw didesak untuk duduk di tengah oleh penumpang lainnya. Sehingga tidak memungkinkan buat gw untuk turun dan memberikan kursi gw untuk ibu itu. Apalagi di kondisi yang rusuh seperti itu, kursi gw malah mungkin direbut oleh orang lain.

Dan akhirnya angkotpun langsung bergerak setelah penuh sesak oleh orang-orang brutal tersebut. Gw pun tetap duduk di dalam angkot seraya perasaan bersalah berkecamuk di dada. Tidak sampai 15 meter bergerak tiba-tiba,

DOR

Ban mobil angkot ternyata pecah, karena terlalu berat membawa penumpang yang melebihi kapasitas. Langsunglah berhenti angkot yang gw tumpangi tersebut. Supir angkot meminta gw dan penumpang di samping gw untuk turun agar si supir bisa mengambil ban serep yamg di taruh di kursi depan.

Akhirnya gw pun turun dari angkot. Di dalam hati langsung berkecamuk. Apakah Allah membukakan kesempatan buat gw agar gw dapat menolong ibu renta tadi, agar gw bisa lepas dari rasa bersalah dan iba gw yang menghantui?

Sejenak gw berpikir ratusan kali untuk melangkah pergi dari angkot tadi untuk mengejar ibu renta tadi. Gw akhirnya menguatkan hati gw, membulatkan niat gw untuk menolong ibu renta tadi. Gw melangkah pergi dari angkot yang sedang dibetulkan bannya itu dan kembali berusaha untuk mengejar ibu renta tadi.

Setiap langkah gw terbesit dalam hati, semoga gw belum terlambat. Teruslah gw berjalan ke tempat massa berkerumun menunggu angkutan untuk memulangkan mereka, sambil melihat ke kanan kiri mencari dua ibu-ibu tadi. Dan akhirnya gw berhasil menemukan mereka berdua. Mereka masih tampak putus asa karena belum mendapatkan angkutan untuk pulang.

Langsunglah gw mengejar mereka dan gw bertanya, kemanakah tujuan mereka. Ternyata ibu-ibu paruh baya dan ibu-ibu renta itu tidak memiliki ikatan apa-apa. Ibu-ibu paruh baya itu ternyata juga iba terhadap ibu-ibu renta karena beliau telah menunggu satu jam tanpa mendapatkan kesempatan untuk naik angkot. Ibu-ibu renta itu ternyata baru pulang dari Rumah Sakit di kawasan Salemba untuk berobat. Ibu-ibu renta itu sebenarnya pergi menggunakan bis kota. Namun akhirnya tidak bisa melanjutkan perjalanan dari Pasar Minggu karena terpaksa bersaing dengan keganasan penumpang kereta yang berebut angkot.

Tanpa pikir panjang, langsunglah gw mengajak ibu itu pulang naik taksi. Dalam pikiran gw yang pasti antarkan ibu itu pulang dimanapun tempat tinggalnya. Kemudian gw bertanya kepada beliau dimanakah beliau tinggal. Alangkah terkejutnya gw beliau tinggal di Depok Tengah! Beliau tinggal di daerah tempat tinggal gw. Sehingga sudah sangat mudah buat gw untuk pulang bersama beliau karena memang rumah kami berada di kawasan yang sama.

Alangkah leganya gw. Gw langsung berusaha mencari taksi yang layak. Gw persilakan ibu renta itu untuk menunggu saja, sedangkan gw yang akan mencarikan taksi untuk kami pulang. Gw jalan cukup jauh agar gw bisa mendapatkan taksi sebelum berebut dengan penumpang lainnya. Tak lama gw mendapatkan taksi dan langsung menjemput ibu itu untuk naik taksi bersama gw.

Sepanjang perjalanan kami pulang, kami banyak bercerita tentang kehidupan kami. Dalam hati bukan main gw lega dan bahagia bisa berkesempatan menjalankan niat baik gw. Alangkah bukan mainnya Allah melapangkan jalan dan membukakan kesempatan yang sangat lebar untum gw dapat beramal, walau hanya berawal dari perasaan iba dan bersalah merasa tak mampu untuk membantu.

Ban angkot pecah dan memberikan gw waktu untuk keluar dari angkot tanpa dipertanyakan orang.

Dipertemukan kembali dengan ibu-ibu renta itu setelah berjalan kembali mengejar beliau.

Ibu-ibu renta itu tinggal di daerah yang sama dengan gw sehingga gw tidak mengeluarkan ongkos lebih besar hanya untuk mengantar beliau.

Betapa besar Pintu Kesempatan yang Allah buka hanya untuk memudahkan gw mengamalkan niat baik gw. Betapa mengejutkannya tanda-tanda KeagunganNya yang seakan seperti kebetulan, tetapi jauh lebih besar daripada sekedar kebetulan.

Kepada kita semua, hendaknya kita selalu banyak berniat baik, sekecil apapun itu. Gw percaya Allah Maha Mendengar dan Melihat, bahwa Allah pasti akan memperhitungkan sekecil apapun niat baik kita. Apabila Allah menghendaki, bukan tidak mungkin hal yang dirasa tidak mungkin menjadi mungkin, karena Allah itu Maha Pembuka Jalan.

Pada hari itu gw dibukakan jalan yang sangat lebar untuk beramal. Dan itu bukanlah yang pertama kali, dan juga bukan yang terakhir. Buka mata hati kita lebar-lebar, mungkin di sisi yang tidak kita duga, Allah sudah membukakan jalan untuk niat-niat mulia kita. Dan kita harus membulatkan tekad kita untuk menjalankan niat mulia kita itu. šŸ™‚

Mantan

Dan ternyata setelah 7 tahun berlalu, dia ga berubah. Hahahaha.

Tanpa sengaja muncul di newsfeed gw salah seorang teman gw berkomentar di postingan Facebook seseorang yang dulunya gw kenal, namun menjadi “mantan” karena yang bersangkutan yang “mutusin” gw.

Lo ga percaya ada mantan teman? Inilah kisah gw tentang mantan teman gw.

Balik lagi zaman gw dulu SMA, gw ikut organisasi pertukaran pelajar. Gw adalah salah seorang kandidat yang sedianya akan dikirimkan. Namun karena gw ga dapet kursi di pesawat yang seharusnya membawa gw ke negeri Paman Sam, gw menjadi salah satu yang ditinggal di sini.

Waktu itu hubungan pertemanan gw dengan kandidat-kandidat lainnya sangat baik. Bahkan gw memiliki sahabat dekat di sana, ya bisa dilihat di postingan blog gw yang lama lah siapa saja mereka. Bahkan gw tetep kontak selama mereka berada di perantauan, some of them even called me or sent me a postcard, hingga akhirnya mereka balik ke Indonesia.

Nah setelah setahun mereka di perantauan, mereka kembali ke sini. Pada saat yang sama, gw diterima di Kampus Kuning di Depok, sehingga gw tidak memiliki kesempatan banyak untuk bercengkrama bersama mereka lagi karena giliran gw yang berada di perantauan. Suatu ketika gw menyapa salah seorang dari mereka melalui instant messaging.

Gw menyapa karena menanyakan kabar. Apa kabar, apa kegiatan sekarang, ya seperti layaknya teman menanyakan kabar. Tahukah apa responnya? Kurang lebih begini:

“You and everyone there are my past. I’m done with all of you. Bye.”

Ga ada angin ga ada badai, gw digituin sama dia. Padahal niat gw baik menanyakan kabar, dan nggak ada gw membuat masalah dengan dia. Ya respon gw sih simpel:

“Fuck off.”

Aneh. Sungguh aneh. Entah apa yang diinginkan sama dia. Tapi lucunya beberapa teman gw yang lain yang kemudian hari tinggal di kota yang sama dengan dia, mengatakan dia masih berhubungan sesekali, dan ga ada masalah.. Maybe it is just me. Yah ya sudahlah. Pola pikir orang-orang memang bermacam-macam. Gw sudah makan asam garam berhadapan dengan berbagai macam orang.

Dan postingan di news feed Facebook yang gw lihat hari ini menunjukkan karakter dia yang masih sama seperti dulu. Gaya arogan tanpa otak. Gw sih tertawa sinis sekaligus senang jahat melihat orang yang menyebalkan masih tetap menyebalkan. Belum lagi banyak yang akhirnya men-judge dia karena perilaku dia di postingan Facebook tersebut. Artinya tidak ada improvement di diri dia sepanjang 7 tahun terakhir.

Kayak lo ada improvement aja Gil. Facebook lo juga suka bikin masalah kan? -_-

Kamera Pensiun!

Setelah dua setengah tahun setia, akhirnya tiba juga saatnya untuk mempensiunkan EOS 550D gwĀ dari jajaran persenjataan gw.

Nggak rusak sih, cuman gw sudah makin tidak puas dengan hasil-hasil gambarnya.Ā Entah kenapa gambar makin grainy, bahkan untuk ISO rendah. Kadang juga susah untuk mendapatkan gambar yang cemerlang. Gw menyadari itu semua ketika kemarin makan-makan dengan Geng Zonk. Gw ngambil foto Mieke dan Eva, dan hasilnya sangat grainy dan out of focus. Padahal sensor sudah mendapatkan fokus, dan shutter speed sangat cepat.

Dimsum Asik 033
Grainy padahal cahaya terang dan pake lensa bagus
Dimsum Asik 048
Kelinci percobaan

Ini baru-baru aja sih kayak gini. Padahal sekitaran sebulan sebelumnya gw foto-foto di acara keluarga hasilnya masih oke-oke aja

Bahkan keriputnya om gw keliatan jelas
Bahkan keriputnya om gw keliatan jelas

Gw sudah bawa ke service center, sekalian ngebenerin pop-up flash gw yang rusak. Namun teknisi service center bilang katanya mainboard dari kameranya sudah mulai lemah, jadinya kualitas gambarnya jadi menurun. Waduh. šŸ™

Apa daya, memang kualitas gambar kamera gw nggak seoke itu sih. Kalau dibandingin sama temen-temen gw yang punya kamera yang lebih bagus, gambarnya tuh keren-keren, jernih-jernih. Gw sudah mencoba membeli lensa yang lebih bagus dengan harapan meningkatkan kualitas gambar. Dapet sih peningkatan kualitas gambar, tapi ya hasil gambar yang grainy dan warna yang kurang pas tetep ada.

Kayaknya sih karena beberapa bulan terakhir, gw membawa kamera gw ke lokasi-lokasi ekstrim. (1) Kawah Ijen yang penuh asap belerang dan uap asam, dan (2) Kawah Bromo yang berpasir dan juga penuh belerang. Belum lagi gw bawa ke pantai yang udaranya payau. Ya maklum, travelling gw kan bukan travelling cantik. Jadi mau nggak mau si kamera harus siap digotong ke tempat-tempat aneh.

Makanya gw akan mencoba investasi ke kamera yang lebih baik. Gw sejak akhir tahun lalu sudah ngiler pengen beli EOS 70D. Nah loh. Seri dua digit kan mahal. Yah apa daya gw bakalan mecahin celengan gw demi membeli kamera cantik tersebut. Yah itung-itung investasi lah. Gw akan mencoba menggunakan kamera 550D gw sekali lagi sebelum membeli yang baru, karena kebetulan dalam waktu dekat ini gw akan pergi travelling.

Tapi katanya mau beli apartemen atau rumah, Gil? Ah sudahlah…

Berceloteh Lagi?

Kayaknya gw bakal melanggar tujuan utama gw bikin Heliosky deh ini.

Gw kemarin iseng-iseng traversing dokumen-dokumen gw di desktop. Banyak banget dokumen gw di komputer gw yang berumur jutaan tahun (ga segitunya sih) yang kadang membangkitkan lagi kenangan lama. Dan gw menemukan apa?

Backup database dari blog gw yang lama! Wow, treasure box yang gw cari selama ini ternyata saudara-saudada, tersimpan cantik di desktop gw. Langsunglah gw siap-siapin hostingan WordPress sementara buat mengekstrak semua sisa blog itu, kemudian gw impor ke Heliosky.

Dan akhirnya Heliosky jadi campur aduk deh.

Gw udah ngeblog dari sekitar tahun 2005. Pas zamannya Multiply. Gw suka bikin blog cerita-cerita sehari-hari gw yang cukup naĆÆve, kisah-kisah lebay antara gw, sahabat terdekat gw Erido, Cece, Nadia, Anggi, Secret Admirer, dan lain sebagainya. Bahkan dulu blog gw otomatis ngirim newsletter ke e-mail temen-temen gw, dan mereka ngebacain isinya!

Blog Multiply itu sayang sekali gw take down tanpa gw backup sama-sekali. Beberapa sisa postingan masih ada sih di e-mail, tapi nggak begitu banyak. Yah jadinya ga bisa deh liat hal-hal lebay yang gw lakukan zaman ababil dulu. Yang sukses ter-backup adalah blog gw di Friendster. Bisa dilihat di blog ini untuk postingan tahun 2006 hingga 2007. Ada satu blog lagi yang belum gw impor ke sini, tapi blognya masih live sih di internet. Mungkin nanti gw akan sumpelin semua ke Heliosky. Hahaha

Lo ga takut Gil, dibaca orang-orang kalau lo tuh galau banget di blog?

Well, otak manusia tuh berevolusi sepanjang umurnya. Oleh karena itu, sifat, pola pikir, dan emosional semua juga akan berevolusi. Blog gw menampilkan evolusi gw dari ketika gw SMA sekitar 8 tahun yang lalu, kemudian duduk di bangku kuliah 7 sampai 3 tahun yang lalu, hingga detik ini.

Gw nggak malu dengan itu semua. Kenapa mesti malu atas apa yang secara alamiah terjadi? Kelabilan masa SMA adalah hal yang sangat wajar. Setiap orang punya sejarahnya masing-masing. Gw dengan jujur berbagi apa yang bisa gw bagikan dari hidup gw. Perkara apakah orang suka atau tidak suka, itu hak mereka untuk menilai.

Yah mungkin rasa ingin berbagi dan berceloteh itu muncul kembali setelah menemukan blog lama gw. Gw melihat bahwa gw dulu sangat bersemangat bercerita, bersenda gurau, dan berbagi kebahagiaan ke orang-orang di sekitar gw. I should not change that. Forever. Because that’s what makes Gilang Gilang.

Mengontrol Kodingan Kita

Biasanya kita menyimpan kodingan kita di komputer tempat kita mengembangkan kodingan kita. Ketika kita perlu untuk berbagi kodingan kita dengan teman, atau mungkin kita menggunakan lebih dari satu komputer sebagai tempat kita ngoding, contohnyaĀ desktopĀ atauĀ laptopĀ secara bersamaan, kita berbagi kode program kita dengan melakukanĀ copy-pasteĀ seluruhĀ folderĀ kodingan kita dan kita bagikan seperlunya. Sebenarnya ini adalah cara yang tidak baik, terutama ketika kita melakukan pertukaran program di mana melibatkan perubahan-perubahan dan pengembangan dari pihak lainnya. Oleh karena itu kita membutuhkan sistemĀ Source Control.

Jadi teman, apa sih sistemĀ source controlĀ itu? Pada dasarnyaĀ source controlĀ adalah sistem yang mengontrol dan mengelola perubahan dan revisi dari setiap baris kode program kita. Jadi setiap perubahan akan tercatat, setiap berkas di kodingan kita dipantau, dan memiliki catatan perubahan sehingga kita tidak akan pernah kehilangan catatan-catatan perubahan yang terjadi di kode program kita. Banyak yang bilang sistemĀ source controlĀ itu hanya berguna untuk proyek-proyek besar, tapi menurut saya TIDAK! SistemĀ source controlĀ sangat berguna untuk kolaborasi antara dua orang saja. Bahkan saya yang programmer tunggal ini, dapat memanfaatkan kelebihan sistemĀ source controlĀ jadi saya dapat mensinkronisasi mesin pengembangan saya, baik itu diĀ desktopĀ maupunĀ laptop.

Ok, jadi saya perlu mencari sistemĀ source controlĀ yang cocok untuk saya. Kebutuhan utama untuk sistemĀ source controlĀ yang saya perlukan adalah:Ā MURAH,Ā lebih bagus lagiĀ GRATIS.Ā Saya mencari solusi-solusi yang terbaik. Jadi saya menapaki perjalanan untuk mencari yang terbaik. Berikut adalah kisah saya dalam perjalanan saya tersebut.

Continue reading “Mengontrol Kodingan Kita”