Fenomena Ramainya IKEA dan Budaya Konsumtif Masyarakat Indonesia

Gue lagi baca-baca diskusi di forum internet tentang stereotype orang mengengah keatas di Indonesia, dan ada salah satunya “rutin belanja di IKEA.” Buat gue sebenarnya fenomena ini sangat lucu bahkan sebelum gue melihat sendiri kenyataannya di Finlandia sini. Di Indonesia, toko IKEA ga pernah sepi, dari anak muda sama emak-emak yang cuma pengen foto doang, sama keluarga muda maupun berduit yang pengen beli furnitur-furniturnya. Sedangkan di Finlandia sini, IKEA sangat sepi, kafenya juga ga rame kayak di Indonesia yang udah kayak antrian kafetaria penjara, dan kasirnya juga cuma buka beberapa biji dan yang antri ya sedikit banget.

Di Indonesia itu, entah kenapa fenomena di kalangan mengengah keatas adalah IKEA menjadi 1st-class product. Padahal di Eropa sini, IKEA itu adalah 2nd-class product, sedangkan 1st-class nya adalah barang-barang furnitur kayu solid seperti furnitur Jepara yang banyak dijual di Indonesia. Ada kebalikan yang sangat kontras antara Indonesia dan Eropa sini, padahal banyak faktor use-case dari IKEA yang tidak sesuai dengan kondisi kehidupan di Indonesia. Oleh karena itu, ini menjadi hal yang menarik untuk dicermati sekaligus dinyinyiri. 😛

“Kayak lo ga pernah beli IKEA aja

Gue bukannya ga pernah beli produk IKEA waktu di Indonesia. Ada beberapa furnitur gue yang beli di IKEA, seperti set sofa dan lemari knock down. Pertimbangan saat itu adalah gue butuh ngisi rumah gue yang kosong total setelah renovasi, dan gue ga mau beli sofa di Informa, tapi ga sanggup beli sofa yang mahal di butik-butik di Panglima Polim.

Sedangkan untuk lemari, gue beli lemari knock-down gede buat nampung semua baju gue dan koleksi jaket dan blazer gue yang berjibun. Gue sudah liat lemari-lemari kayu di toko furnitur di Gintung, Ciputat, dan ga ada yang ukurannya sesuai dengan yang gue mau. Jadi, antara gue bikin sendiri ke kontraktor interior yang mungkin modalnya akan lebih bengkak lagi, atau gue beli IKEA aja. Akhirnya gue putuskan untuk beli lemari IKEA aja.

Selain itu yang gue beli di IKEA adalah lampu plafon dan lampu duduk karena faktor desain dan harga yang juga nggak terlalu singifikan dengan barang-barang di Informa/Ace Hardware, peralatan makan pecah belah, dan meja TV kecil buat taro TV gue sementara, yang akhirnya dipake terus sampai barang-barang lama punya nyokap di rumah Surabaya dibalikin lagi ke Jakarta.

Sedangkan furnitur lainnya gue beli di toko furnitur di daerah Gintung, Ciputat. Semua termasuk meja makan, ranjang, nakas, rak buku, dan sebagainya.

“Trus emang kenapa dengan IKEA?”

Gue sering perhatiin orang-orang banyak yang begitu kagum dengan barang-barang yang terpajang di gerai IKEA. Banyak orang-orang yang heboh pesen ini itu dengan salespersonnya ketika bikin konfigurasi lemari atau meja dapur. Padahal kalo kita telaah lagi, IKEA itu lebih mahal harganya ketimbang barang jadinya. Oleh karena itu, sangat penting untuk bolak-balik browsing sana-sini membandingkan dengan produk yang tersedia di pasaran dan enggak langsung mindset “POKOKNYA IKEA.”

Mayoritas barang di IKEA adalah produk-produk High-Density Particleboard, yang sebenarnya serupa dengan produk-produk seperti Olympic atau barang-barang di Informa. Yep, kualitas IKEA memang sudah jauh di atas Informa, yang bikin guepun cukup enggan untuk beli barang di Informa, apalagi Olympic. Di Eropa sini juga ga ada barang sekualitas Olympic yang beredar. Furnitur kelas 3 di sini mereknya Jysk, dan ini adalah versi lebih murahnya dari IKEA yang mungkin bisa dianggap sekelas barang-barang Informa. Etapi lucunya juga di Indonesia Jysk itu buka toko di mall-mall mahal. Padahal di sini mah tokonya di ruko-ruko pinggiran gitu yang sempit dan tua.

Padahal dengan budget yang sama, kita bisa beli furnitur kayu solid buatan lokal di toko-toko furnitur lokal. Kualitasnya sudah pasti jauh di atas particleboard. Apalagi untuk produk-produk seperti ranjang, lemari, meja makan, dan sebagainya. Produk dengan kayu solid jauh lebih tahan lama dan tahan banting. Enggak gampang lecet atau rusak seperti particleboard yang dilapis dengan pelapis, yang mana pelapisnya gampang rusak dan mengekspos particleboard di dalamnya.

Banyak orang yang bilang “oh kan IKEA modelnya bagus, jadi ya sesuai lah dengan harga yang kita beli.” Padahal juga banyak furnitur kayu dari industri lokal yang memproduksi barang-barang dengan model modern. Sudah banyak juga toko furnitur online seperti Fabelio atau Dekoruma yang menjual produk-produk lokal. Fabelio sendiri sudah punya showroom di beberapa tempat termasuk mall mewah. Jadinya kita juga bisa melihat langsung produk yang ditawarkan.

Guepun dua tahun yang lalu lihat-lihat di sekitar Gintung bareng nyokap gue, dan jatuh cinta sama salah satu drawer untuk di kamar. Bentuknya retro klasik dan tampak mewah dengan bahan kayu jati solid. Gue beli drawer itu seharga 7 jutaan, yang mana hampir sama dengan drawer yang dijual di IKEA dengan ukuran yang sama. Bahkan bentuknya mirip dengan seri Stockholm nya IKEA yang harganya bisa sampai 10 jutaan.

“Trus kenapa IKEA masuk ke Indonesia dong?”

Karena mereka tau target market potensial Indonesia yang seneng gimmick dan brand barat. Yes, Indonesia masih sama pola pikirnya yang menganut white worshipping bahkan untuk sekelas brand furnitur yang sebenarnya banyak produk lokalpun yang berkualitas. Enyak gue udah pernah nyinyirin kayak gitu pas gue memutuskan beli beberapa barang di IKEA. Sanggahan gue adalah gue ga beli semua barang di IKEA. Cuma beberapa jenis barang aja yang menurut gue masih oke untuk gue peroleh di IKEA, dan balik lagi, harus banding-bandingin dengan produk-produk lainnya.

White worshipping ini juga teramplifikasi dengan perancangan toko-toko IKEA yang banyak sekali memajang foto-foto desainer dengan quote-nya mereka. Seolah-olah desainer mereka adalah desainer bule terbaik yang jenius yang merancang furnitur dengan syantique dan syiamique. Tapi gue enggak inget juga sih apakah di IKEA sini dipajang foto-foto kayak begitu karena gue sama sekali enggak perhatiin (gue ke IKEA di sini cuma sekali karena gue darurat butuh kasur pas gue pindahan ke apartemen mahasiswa gue).

Pernah baca nggak bahan baku kayunya IKEA di produk-produk mereka? Kalo yang kayu solid, pasti kelihatan bahan bakunya antara kayu Birch atau kayu Pinus. Kayu-kayu tersebut bukanlah kayu yang berasal dari Indonesia.

Beberapa minggu terakhir ini gue sering mondar-mandir ke daerah pedalaman di Finlandia sini menggunakan kereta, dan gue sangat kaget bahwa industri perkayuan di Finlandia ini cukup besar. Banyak kargo kayu yang diangkut dengan kereta. Gelondongan kayu mentah banyak ditaruh di stasiun-stasiun kargo di daerah Finlandia Tengah menunggu untuk diangkut menggunakan kereta kargo. Selain itu, banyak hutan-hutan yang gundul namun terdapat bibit-bibit pohon baru, yang mana dapat gue simpulkan bahwa itu adalah hutan produksi yang sedang direboisasi. Penduduk Finlandia kan cuma 5 juta orang. Jadi rasanya ga wajar dong kalau produksi kayu sebanyak itu buat kayu bakar. Lantas kemanakah larinya kayu itu?

Ke etalase IKEA salah satunya. IKEA adalah salah satu model bisnis untuk mengekspor produksi kayu-kayu dari negara-negara Nordic/Skandinavia. Menurut data dari The Observatory of Economic Complexity (OEC), Finlandia sendiri mengekspor kayu senilai total US$ 3.23 Milyar, sekitar 4% dari total ekspor, di mana 64%-nya adalah kayu olahan solid. Sedangkan Swedia sendiri sebagai negara asal dari IKEA, mengekspor kayu senilai total US$ 4.05 Milyar, sekitar 2% dari total ekspor, dengan 74% adalah kayu olahan solid. Indonesia sendiri mengekspor kayu senilai US$ 4.29 Milyar namun didominasi dalam bentuk kayu olahan plywood.

Tapi tentu saja dengan besarnya volume produksi IKEA saat ini, produksi dari domestik mereka sendiripun sudah tidak menutupi supply chain yang dibutuhkan. Berdasarkan laporan “Sustainability Report” tahun 2016, suplai kayu IKEA didominasi dari Polandia, yaitu sekitar 27.7%. Swedia sendiri mensuplai sekitar 6.9% kebutuhan kayu IKA. Selain itu, IKEA sendiri sudah mengekspansi bisnis mereka dan memiliki hutan produksi sendiri untuk mensuplai kebutuhan kayu mereka ke depannya.

“Jadi kita harus gimana?”

Jangan kemakan merek. Jadilah pembeli yang bijak dan utamakan produk-produk dalam negeri terutama untuk barang-barang yang bisa diperoleh dari dalam negeri. Dengan kita beli barang-barang ekspor seperti itu, sama saja dengan kita membuang-buang devisa negara kita. Saat ini sourcing barang-barang IKEA dari produksi dalam negeri Indonesia tampaknya masih cukup terbatas, seperti barang pecah belah, dan beberapa produk garmen. Pernah gue lihat produk tampah buatan Indonesia dijual di IKEA dengan harga mark-up yang membuat geli sendiri.

Dulu gue beli piring pecah belah di IKEA karena kualitasnya bagus, dan dia diproduksi di Indonesia. Pecah belah tersebut merupaka produksi co-brand Zen, yang mana itu adalah brand lokal yang diproduksi oleh pabrik Kedaung Indah Group (KIG). Kualitasnyapun nggak kalah dengan piring-piring hotel bintang 5, yang juga mayoritas diproduksi KIG. Belakangan ini entah kenapa malah pecah belah dengan co-brand Zen itu udah nggak masuk lagi ke IKEA, dan diganti dengan pecah belah berkualitas lebih rendah.

Banyak toko furnitur yang menjual barang-barang berkualitas dengan harga tidak semahal di IKEA dan diproduksi dari dalam negeri. Selain itu, juga mulai banyak toko-toko furnitur online yang juga memiliki gerai pameran di beberapa pusat perbelanjaan maupun pertokoan. Kebutuhan interior seperti kitchen-set pun bisa diperoleh di kontraktor interior sekitar kita, dengan harga yang jauh lebih terjangkau dibandingkan dengan membeli di IKEA.

Namun sebenarnya memang ada beberapa use-case yang cocok dengan produk-produk IKEA, seperti kebutuhan untuk tinggal di apartemen. Furnitur-furnitur besar dengan kayu solid sudah pasti akan sangat sulit untuk dibawa ke unit-unit apartemen. Furnitur knock-down a-la IKEA memang sangat cocok dengan kondisi ini karena memang IKEA itu dirancang untuk kemudahan instalasi dan pengiriman, yang merupakan faktor penting bagi penduduk negara-negara Eropa dan Skandinavia pada umumnya.

Namun untuk rumah landed, tidak ada hambatan seperti itu. Terlebih lagi furnitur-furnitur kayu solid yang kita beli dari toko furnitur sudah menyediakan ongkos kirim gratis hingga sampai ke ruangan kita. Hidup di Indonesia yang masih murah ini sebenarnya masih memberikan kita privilege untuk mendapatkan layanan-layanan kemudahan yang enggak akan bisa diperoleh di negara-negara barat. Jadi ngapain mempersulit diri sendiri dengan maksain beli produk brand luar tapi angkat sendiri pasang sendiri di rumah. Ini bukan maksudnya gue ngajarin budaya males tapi ya.

“But my money is my privilege…”

Iya iya. Tapi alangkah baiknya balik lagi gue tekankan: gunakanlah uang dengan bijak. Uang kita selain bisa meningkatkan taraf hidup kita, bisa juga pada saat yang bersamaan meningkatkan taraf hidup orang banyak dengan tidak menghamburkan uang pada produk-produk impor yang bisa diperoleh di dalam negeri. Gimana mau memajukan ekonomi dalam negeri kalau kitanya sendiri enggak pake produk-produk lokal.

Beli barang impor ga masalah kok. Gue juga sering beli barang impor, dengan pertimbangan-pertimbangan yang macam-macam juga. Bukan sebatas impulsif beli barang ini itu hanya karena brandnya saja. Dan pastikan bahwa memang kita juga sudah berusaha untuk membandingkan seluruh opsi yang ada sebelum kita membeli barang kebutuhan kita, karena itu adalah salah satu ciri masyarakat yang bertanggung jawab terhadap ekonomi di sekitar kita.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *